Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2013

Rasulpun Mencium Tangan Kasar Buruh, Pencari Nafkah



Kegiatan mencari nafkah sebenarnya amalan mulia yang patut diniatkan dengan ikhlas, sehingga bisa meraih pahala, karena keutamaannya amat luar biasa, diantaranya:

1. Penebus Dosa

”Ada sebagian dosa manusia yang tidak dapat diampuni dengan melakukan sholat, puasa, zakat, haji dan umrah. Tapi dosa tersebut terampuni lantaran prihatin memikirkan nafkah keluarga”. (HR Imam Muslim)

“Barangsiapa di sore hari merasa kecapaian, karena seharian bekerja mencapai kecukupan keluarga, maka pada sore hari itu pula dia mendapatkan curahan ampunan dosa.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas)

Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah baru tiba dari perang Tabuk, banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Rasulullah bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”
Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Rasulpun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,
Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya‘.


2. Amal Istimewa

”Bukanlah orang yang terbaik di antara kalian orang yang rajin beribadah mencari pahala akhirat dengan meninggalkan aktivitas bekerja untuk kepentingan kehidupan dunia, dan bukan pula orang yang terbaik di antara kalian orang yang rajin bekerja dengan meninggalkan aktivitas ibadah. Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang melaksanakan keduanya: rajin bekerja dan rajin pula beribadah. Sebab kekayaan dapat dijadikan sarana meraih kebahagiaan akhirat. Karenanya, janganlah kalian menjadi manusia pemalas.” (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

3. Bagian Dari Sedekah

“Apa saja yang engkau makan untuk dirimu sendiri adalah termasuk sedekah. Apa saja yang engkau berikan kepada anakmu adalah termasuk sedekah. Apa saja yang engkau berikan kepada istrimu adalah termasuk sedekah. Dan apa saja yang engkau berikan kepada pembantumu adalah termasuk sedekah bagi dirimu.” (HR Thabrani dari Miqdam bin Ma’dikariba)
Read more »

Kamis, 09 Februari 2012

Runtuhnya Benteng Barshisha



Tersebutlah kisah seorang ‘alim yang taat beribadah. Karena ‘alimnya, dia tidak pernah bermaksiyat selama 200 tahun. Berkat ibadah dan kealimannya, 9.000 muridnya dapat berjalan di atas bumi. Para malaikat pun kagum terhadap hamba Allah yang satu ini.

Tetapi, apa kata Allah SWT atas kekaguman malaikat kepada hamba-Nya yang bernama Barshisha, “Apa yang kau herankan daripadanya. Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Dan sesungguhnya, Barshisha ada dalam pengetahuan-Ku. Di akhir hayat Barshisha yang terkenal alim itu berbalik menjadi kafir dan masuk neraka selama-lamanya hanya karena minum khamr,” kata Allah SWT.

Mendengar perkataan Allah SWT, iblis merasa menemukan kunci kelemahan Barshisha. Dan, bukanlah iblis jika dia tiada menggoda manusia agar menjadi temannya di neraka kelak. Maka datanglah iblis ke tempat peribadatan Barshisha dengan menyamar sebagai seorang yang alim dengan mengenakan pakain zuhudnya berupa kain tenun.

“Siapa engkau ini dan apa maumu?” tanya Barshisha. “Aku adalah hamba Allah yang datang untuk menolongmu dalam rangka mengabdi dan menyembah Allah,” jawab iblis. “Siapa yang hendak berbakti dan beribadah kepada Allah, cukuplah Allah yang menolongnya dan bukan engkau,” jawab Barshisha dengan hati yang masih tegar.

Melihat mangsanya begitu tegar pendiriannya, iblis mengambil jurus yang lain. Selama tiga hari tiga malam, iblis menyembah Allah tanpa makan, minum, dan tidur. Melihat tamunya beribadah sekhusuk itu, hati Barshisha mulai goyah. Barshisha kagum atas kekhusyukan tamunya yang terus menerus beribadah tiga hari tiga malam tanpa tidur, makan, dan minum sedikitpun.

“Padahal yang sealim ini tetap makan, minum, dan tidur bila beribadah kepada Allah,” sebuah suara mengusik hatinya. Didorong rasa ingin tahu, Barshisha lalu bertanya kepada tamunya bagaimana dia dapat beribadah seperti itu.

“Aku pernah berbuat dosa. Dan bila teringat akan dosaku, aku menjadi tidak bisa makan dan tidur,” ujar iblis yang berlagak alim. “Bagaimana agar aku dapat beribadah seperti kamu ?” desak Barshisha yang mulai terpikat taktik iblis. Kepada mangsanya, iblis lalu menyarankan agar Barshisha sekali waktu berbuat maksiyat kepada Allah, kemudian bertaubat. Dengan begitu dapat merasakan kenikmatan beribadah setelah mengenang dosanya.

Bujukan iblis mulai termakan Barshisha. Benteng imannya yang terakhir mulai goyah. “Apa yang harus aku kerjakan ?” desak Barshisha. “Berzina,” jawab iblis tegas. “Itu tidak mungkin. Aku tidak akan melakukan perbuatan maksiyat yang dosa besar itu,” jawabnya. “Jika tidak mau, membunuh orang saja, atau minum khamr yang dosanya lebih ringan, “ujar iblis. “Aku pilih minum khmar saja, tetapi dimana aku mendapatkannya,” desak Barshisha yang mulai termakan bujukan iblis. “Pergilah ke desa ini,” jawab iblis menunjukkan nama dan tempat desa yang dimaksud.

Atas saran iblis laknatullah, Barshisha pergi menuju desa yang dimaksud. Disana Barshisha bertemu seorang perempuan cantik yang menjual khmar. Barshisha membelinya dan langsung meneguknya. Karena tidak biasa, Barshisha kehilangan kesadaran. Dengan bernafsu, Barshisha memaksa penjual khamr untuk berzina. Saat Barshisha memaksa perempuan itu, suaminya memergokinya. Barshisha panik, suami perempuan itu dipukulnya hingga mati.

Iblis melaporkan peristiwa itu ke pengadilan dengan Barshisha sebagai terdakwa. Oleh pengadilan, Barshisha dijatuhi hukuman cambuk 80 kali sebagai hukuman minuman khamr, 100 kali cambukan atas hukuman berbuat zina. Bukan itu saja, Barshisha pun divonis hukuman gantung sebagai ganti memukul suami perempuan penjual khamr.

Saat Barshisha digantung, iblis menghampirinya, “Bagaimana keadaanmu Barshisha?”. “Siapa yang mengikuti orang jahat, beginilah akibatnya,” jawab Barshisha. “Aku telah berupaya 200 tahun untuk menggodamu sampai berhasil. Hari ini engkau digantung, bila engkau ingin turun, aku dapat menolongmu. Tetapi dengan syarat, sujudlah kepadaku,” ujar iblis. Barshisha yang sudah mulai putus asa menjawab, “Bagaimana aku dapat bersujud kepadamu, sedang tubuhku dalam gantungan.” “Tidak perlu susah payah, cukup engkau bersujud dan beriman kepadaku dalam hati,” kata iblis menegaskan. Maka bersujudlah Barshisha dalam hatinya kepada iblis. Matilah Barshisha dalam kekafiran menyembah iblis laknatullah.

Begitulah kisah seorang alim yang diakhir hidupnya dihinggapi rasa putus asa sehingga terbujuk rayuan iblis. Setelah berbuat dosa, seharusnya Barshisha bertaubat kepada Allah SWT atas semua dosanya. Tetapi, Barshisha karena rasa putus asa yang menderanya, Barshisha lupa kepada rahmat Allah yang akan mengampuni dan memberikan pertolongan bagi siapa saja yang mau bertaubat. [oman]
Read more »

Kamis, 12 Januari 2012

Musuh-Musuh Setan

Eksistensi iblis dan keberadaan setan bagi Bani Adam jelas-jelas telah dinyatakan Allah sebagai musuh bagi orang-orang beriman yang harus dilawan dengan kekuatan iman dan ihsan.

Sebagai mukmin yang dituntut merealisasikan keimanannya dalam keseharian, mau tidak mau harus berhadapan dengan kenyataan setan yang tidak pernah tinggal diam dalam memperdayakan umat manusia.

Tipisnya keimanan seseorang akan semakin dekat dengan setan. Sebaliknya, semakin tebal keimanan seseorang, akan semakin dimusuhi setan, dan menjadikan setan sebagai musuh bebuyutan.

“Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh nyata bagi kalian.” (QS. 2:168)

Klasifikasi Bani Adam yang menjadi musuh setan, berdasarkan dialog Rasulullah SAW dengan setan laknatullah diantaranya ialah :

1. Orang berilmu yang mengamalkan ilmunya

Jangan aneh jika nasib ‘ulama yang istiqomah akan ke’aliman dan ilmunya seringkali harus menerima kenyataan pahit dengan segala godaan, oleh kekejaman politik atau kezholiman manusia-manusia setan.

2. Orang yang tunduk dan patuh pada kebenaran

Pada lazimnya manusia bukan tidak tahu akan kebenaran, tapi ia tidak mau tahu kebenaran. Bahkan, Naudzubillah adalah slogan yang haram saja susah apalagi yang halal, pada ia tahu antara kebenaran dan kebathilan.

3. Pemuda yang tekun beribadah dan taat kepada Allah SWT

Terasa asing ketika ada pemuda-pemuda yang tekun beribadah karena saat ini, pemuda-pemuda menghabiskan masa mudanya dengan kemanjaan dan foya-foya. Slogan mereka : masa muda bersenang-senang, tua kaya dan bahagia, mati masuk surga. Begitu dangkalnya pemikiran mereka padahal surga dan kebahagian itu hanya bisa diraih dengan ketaatan dan bekerja sungguh-sungguh.

4. Orang yang senantiasa menasehati orang lain dengan keikhlasan

Derasnya bujuk rayu setan melalui ghuzwul fikrinya yang menyerang umat islam, sehingga umat islam banyak namun laksana buih di lautan. Tetapi, dengan semakin derasnya bujuk rayu setan, ada juga orang-orang yang mengajak dan menasehati saudaranya. Mereka menjadi ustadz dan tauladan bagi masyarakatnya, walau kadang mereka difitnah dan diteror oleh setan-setan manusia.

5. Orang yang penuh keyakinan dan harapan akan jaminan Allah

Mereka tidak takut kelaparan pada saat terhimpit ekonomi, walau godaan datang dari kanan dan kiri, atau setan yang merayu silih berganti, mereka tidak tergelincir akan godaan harta, tahta, dan wanita karena mereka orang-orang yang loyal kepada Allah SWT.
Read more »

Rabu, 19 Agustus 2009

Keutamaan Bulan Ramadhan

يـَآأيـُهـَاالـَّذِيْنَ اَمـَنـُوْاكـُتِبَ عـَلـَيـْكـُمُ الصـِّيـَمُ كـَمـَا كـُتِبَ عـَلىَ الـَّذِيْنَ مِنْ قـَبـْلـِكـُمْ لـَعـَلـَّكـُمْ تـَتـَّقـُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS.2:183)

Ayat ini menjadi landasan syar’i bagi orang yang islam (baca beriman) untuk melaksanakan puasa Ramadhan, kecuali :

“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS.2:184)

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (QS.2:185)

Berdasarkan Surat Al Baqoroh ayat 184 dan 185 orang yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa adalah :

1. Orang yang tidak sanggup berpuasa misalnya orang lanjut usia atau karena tidak diperkenankan puasa karena alas an tertentu misalnya wanita hamil dan menyusui serta orang yang sakit.

Ayat 184 turun berkenaan dengan Maula (Budak yang sudah dimerdekakan) Qais bin Assa-ib yang memaksakan diri berpuasa, padahal ia sudah tua sekali. Dengan turunnya ayat ini, ia berbuka dan membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin, selama ia tidak berpuasa itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'd di dalam kitab at-Thabaqat yang bersumber dari Mujahid.)

2. Orang yang tidak menetap disuatu tempat atau orang yang melakukan perjalanan (musafir).
Walau Allah telah mewajibkan hamba–hamba–Nya berpuasa di bulan Ramadhan, namun Allah pun tidak menyulikan dengan kewajiban berpuasa bagi orang–orang yang mengalami kesulitan atau hambatan atau alasan tertentu untuk berpuasa. Subhanallah.

Dibalik perintah Allah SWT yang mewajibkan berpuasa serta memboleh orang–orang tertentu untuk tidak puasa walau pada dasarnya mereka ingin tetap berpuasa Ramadhan karena mereka mengetahui keutamaan bulan Ramadhan (yang mungkin kali ini adalah Ramadhan terakhir bagi mereka), yaitu :

1. Puasa merupakan ibadah yang diutamakan Allah SWT dari ibadah–ibadah lainnya.
“Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya dan 1 kebaikan dibalas 10 kali lipat, bahkan sampai 700 kali lipat, kecuali puasa, ia untuk–Ku dan Aku membalasnya. (Hamba–Ku) telah meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena–Ku. Orang yang berpuasa mendapatkan 2 kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Robbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dalam pandangan Allah daripada aroma kesturi”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud dengan ungkapan bahwa “Puasa itu untuk–Ku dan Aku yang akan membalasnya” yaitu seluruh ibadah ritual berupa gerakan–gerakan anggota badan yang dapat dilihat oleh manusia, sementara puasa merupakan ibadah yang tidak terkait dengan gerakan badan, sehingga tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali Allah.

2. Puasa sebagai perisai

“Sungguh ! Sesuatu yang aku khawatirkan menimpa kalian semua adalah syahwat yang terdapat dalam perut dan kemaluan kalian serta hal–hal yang menyesatkan karena hawa nafsu.” (HR. Ahmad)

Apabila seseorang dapat mengendalikan dua syahwat tersebut, maka ia akan terjaga dari api neraka. Sebab neraka itu dipagari dengan syahwat dan Syurga dipagari dengan hal–hal yang kurang disenangi manusia.

“Puasa itu perisai dan benteng kokoh (yang melindungi seseorang) dari api neraka”. (HR. Ahmad dan Baihaqi)

3. Puasa dapat memasukan hamba ke syurga melalui Arrayan

“Di syurga terdapat sebuah pintu yang diberi nama Arrayan, hanya orang–orang berpuasa yang akan memasuki pintu itu. Apabila mereka semua telah masuk, pintu itu ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang dapat masuk melalui pintu tersebut … “. (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Puasa akan member syafaat

“Pada hari qiyamat nanti puasa dan al qur’an akan member syafaat kepada hamba. Puasa berkata: “Wahai Tuhan, aku telah menyebabkannya menahan makan dan syahwat, karenanya izinkan aku untuk member syafaat kepadanya … “. (HR. Ahmad)
Read more »

 

PENDIDIKAN

RENUNGAN

PUISI